Wednesday, July 14, 2010

Putu for everyone!

Perut saya lapar malam ini. Saya pun segera mencari makan malam yang sekiranya dapat mengisi perut saya ini. Saya pun segera pergi ke tempat langganan saya di warung Nasi Uduk dekat kosan. Sembari dalam perjalanan, saya baru sadar bahwa isi dompet saya sudah tipis, dan saya berinisiatif untuk mengambil uang di ATM dekat Alfamart, Jl. Dipatiukur, terlebih dahulu.

Sewaktu menuju ATM, di depan pintu ATM ternyata ada yang menjual jajanan tradisional yang telah lama saya tidak melihatnya. Jajanan ini adalah salah satu jenis makanan yang bisa dijual pada malam hari. Mungkin karena sifatnya yang perlu disajikan secara hangat. Makanan ini bukanlah gorengan, martabak, atau semacamnya. Jajanan malam ini terbuat dari kelapa parut yang berisi gula merah atau gula Jawa. Jajanan ini bukanlah kelepon, melainkan Kue Putu!

Ya, kue ini jarang bisa ditemui di lingkungan sekitar karena kue ini biasanya dijual secara asongan yang berkeliling. Menemukan yang menjual saja sudah merupakan keberuntungan tersendiri. Penjual Kue Putu biasanya ditandai dengan suara yang dihasilkan dari alat pembuat kue putu tersebut. Jika penjual Mie Ayam membawa “kentongan”, penjual Es Cendol mendentingkan piring yang akan disajikan bersama Es Cendolnya, serta penjual Sate keliling langsung meneriakkan nama barang yang dijualnya, yaitu “sate”, penjual Kue Putu biasanya menjual barang dagangannya dengan membunyikan suara uap air yang dihembuskan melalui sebuah lubang kecil, menyerupai suara seruling bambu. Uap air yang dihembuskan melalui lubang kecil tersebut adalah alat untuk memasak Kue Putu itu sendiri.

Pertama-tama saya mengajukan pesanan sebanyak Rp5.000 (10 buah). Namun, saya ingat para tetangga saya di kosan dan memutuskan untuk memesan sebanyak Rp15.000 (30 buah). Kue Putu ini pun saya bagikan 10 buah kepada AA dan Teteh, sang guardian dan key master kosan, 5 buah kepada sepupu saya Sasri, 5 buah kepada Dimas, 5 buah kepada Sharon, dan 5 buah saya nikmati sendiri. Putu for everyone!

Sembari mengukus adonan Kue Putu yang dicetak dalam sebuah selongsong bambou satu per satu, saya pun menyempatkan diri untuk mengobrol sejenak dengan sang pedagang. Sang pedangang Kue Putu tersebut ternyata berasal dari Jawa Tengah, dan sekarang dia memang tinggal di Bandung, di Sukaluyu. Saya juga mengaku bahwa saya berasal dari Jakarta, namun orang tua saya asli Jawa. Dia pun bersemangat menceritakan tentang perjalanannya ke Bandung beberapa hari yang lalu setelah berpartisipasi dalam sebuah acara pernikahan.

Tiba-tiba, dia bersemangat untuk menceritakan keponakannya yang baru saja lulus di dua perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yaitu ITB dan IPB. Dia menceritakan bahwa keponakannya tersebut berasal dari SMA Plus di Bandung dengan memiliki rata-rata nilai Matematika sebesar 10. Sang keponakan ini pun akhirnya memilih IPB. Hal yang lebih menggugah saya adalah, seluruh biaya SMA serta kuliahnya, sepenuhnya disubsidi oleh pemerintah sebagai siswa unggulan. Subhanallah.

30 buah Kue Putu pun rampung dikukus satu persatu dan dibungkus dalam kertas serta dimasukkan kedalam plastik. Saya membayar dengan lega. Sang pedagang ini telah menjual dagangannya serta menggugah diri saya.

“Seseorang yang bekerja keras pagi sampai sore akibat mencari nafkah akan lebih disukai Allah SWT dari peminta-minta yang kadang diberi kadang tidak.” (HR Bukhari)

Pertama saya ingin memulai mengobrol dengan sang pedagang yang dengan tangguhnya menjajakkan barang dagangannya sendiri di samping sebuah toko ini, saya pun dilandasi rasa iba. Namun, setelah saya mendengarkan semangatnya dalam berdagang dan bercerita, membuat saya berpikir dua kali. Mengapa saya harus merasa iba kepada seorang pedangang yang yakin dan bahagia atas apa yang ia kerjakannya, berusaha memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri dengan cara yang halal, dan yang terpenting, menyediakan dagangan yang memang ingin saya beli at the right place, at the right time? Justru mungkin dia yang iba kepada saya karena harus keluar malam-malam untuk mencari makan malam yang sudah telat pada waktunya ini. :)

Sang pedangang ini telah melakukan pengejawantahan izzah/harga dirinya sendiri. Dengan bekerja keras dengan cara berdagang, dia telah meninggikan derajat dirinya di mata Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang yang bekerja keras dalam kebaikan. Sebuah pelajaran yang berharga untuk kita semua, Insya Allah.

Sunday, July 11, 2010

How to manage our creative process

Elizabeth Gilbert teaches us how to manage our creative process. The paradigm that creative people is very connected with “other side of ourselves” which is really counts the career of the creative people, is actually bounced by her point of view. She said that the creativity mind which is connected with the other side of the people shouldn’t colonize the actual normal mind of people, which makes our live be in the normal human being. As long as it takes in the “flow” of our creativity, then just do it, but when it’s not, just do the job as creative people.

This is a very interesting point of view from Elizabeth Gilbert as a creative people. She doesn’t believe that creative people life should be near with drugs, alcohol, or other type of things and activities which are actually destructive lifestyle to bring out the “other side of us”, or our “genius” of creativity to pop out. She denied that all creative people are related to that, and she doesn’t want to. She engaged creative people to still be creative and not haunted by the judgment and lifestyle.

Many creative theory or philosophy explained that creative mind is actually ruled by “the other side of us” which is “our creativity mind” and separate with the normal mind. In Greek, it usually called the “genius” mind. This theory actually believed by the old Greek and Roman view. So, the creative people actually can just excuse themselves if their creative works or result doesn’t appear to be good on his/her and other people’s point of view. They just blame their “genius”ness are appears on lameness or bad condition.

The other view of creativity, tells that our creative mind is actually pulsed by other people creative work, or we usually called creative hero/worship of other people creative work. This is actually not a right to view our creative thinking too because; it will “swallow the sun” up of the creative hero works that we worship. We just like being their occupant to our creative hero’s vessel that wouldn’t express our creative originality which would lead to another confusion and self destruction.

Many cases, especially creative people cases on the West, had ended their career on self-depression an self destructiveness, because of the wrong point of view and low knowledge of creative process and management. Elizabeth describes, it would occur very hard for them, and it occurs in very large number of creative people, especially in America. This paradigm would lead the image of creative people as, a full depression people, with ongoing creative impulses that torched them, close with death by depression, and self suicide in young age.

Elizabeth believes that first; our creative mind is actually come originally from ourselves and “the other side of us” which is usually called our “genius” or the creative mind, is actually not come from ourselves. She believes that it comes from God. She took examples in other place in the world such as Africa, about the dancers and the musician who perform there. Along the performance, they would call “Allah, Allah” which means “God, God”. In many other countries, it already changed to “Ole” in Spain, “Bravo”, or other type of expression which actually express the existence of God.

So, Elizabeth gives us how to manage our creativity is by believing that the creativity actually come from ourselves as a creative professional, and not by the impulses which came from “the other side of us” which is our “genius” or creative mind which only pops out uncertainly, that would lead to a thinking that, our creativity is “behind us”. The “mood” and/or ideas of our creative minds are actually involved God, but not actually the core of our creativity process. So, if the “mood” and/or the ideas don’t pop out, just remember about our professionalism as a creative people to “just do your job”.

“If you’re a dancer, just do your dance, and if it involves the “God”, and then just “Ole!” If it’s not, just do your job.” –Elizabeth Gilbert-

Professionalism is truly the key of creativity, or other type of job. That’s why Allah SWT really loves their “umat/people/followers” to be professional in all aspects of life, especially in serving the needs of other people. Subahanallah.

*Elizabeth Gilbert is the writer of the book Eat, Pray, Love.

Friday, July 9, 2010

Hingar Bingar Dunia

Saya sangat bersyukur bahwa saya masih sekolah. Banyak orang yang masih tidak bisa menikmati mengayomi pendidikan dengan formal. Kemarin saya baru saja memberikan uang kepada seorang pengamen/peminta-minta yang berstatus masih anak-anak karena iba.

Saya sedang berada di perpustakaan, membaca beberapa majalah yang dilanggankan oleh SBM-ITB setiap bulannya. SBM-ITB adalah sekolah/universitas bertitel S1 yang fokus dalam mendidik anak-anaknya menjadi manajer handal. Entrepreneurship, Leadership dan Technology adalah moto yang dibawa olehnya. Saya sekarang sedang mengerjakan tugas akhir saya yang harus sudah dikumpulkan hari Senin dua minggu kedepan. Saya merasa bersyukur karena saya diberikan berkah untuk bisa fokus untuk mengerjakannya.

Mengapa seperti itu? Karena setelah saya membaca majalah-majalah yang dilanggankan setiap bulannya ini, hasrat saya untuk melakukan sesuatu semakin tertantang. Saya ingin segera membuat usaha untuk melayani lingkungan saya. Namun, saya sadar bahwa tugas akhir saya harus dikumpulkan dua minggu lagi, jadi saya harus menunda hasrat saya tersebut untuk fokus menuntaskan Tugas Akhir saya.

Alhamdulillah, saya masih bisa “hanya” mengamati fenomena yang terjadi di dunia ini melalui majalah-majalah yang saya baca. Tidak terbayang jika saya sudah terjun langsung kesana, pasti saya sudah tidak memikirkan lagi untuk menyelesaikan pendidikan saya karena fokus saya berpindah tempat. Boro-boro tugas akhir, kuis harian maupun kelas kuliah yang saya jalani tiap harinya, mungkin hanya menjadi sebuah “prioritas kedua” dari apa yang saya ingin laksanakan seperti apa yang ada di majalah-majalah yang saya baca. Hal ini pasti akan menjerumuskan saya untuk menelantari kegiatan belajar saya di sekolah karena terlalu semangat menjalani apa yang saya impi-impikan selama ini. Na’auzubillah.

Pantas saja, saya pernah mendengar salah satu hadist Nabi SAW yang menyatakan, Allah SWT sangat menyayangi serta memberikan pahala serta berkah yang sangat besar kepada para pelajar. Memang, apa yang saya rasakan selama ini, belajar memang merupakan hal yang sangat menantang. Suatu hari saya bisa saja mendapatkan pelajaran yang saya tidak mengerti, kurang sukai, bahkan sangat sulit untuk saya resapi. Hal ini mendorong saya untuk “lari dari kenyataan” dengan akhirnya melakukan hal-hal lain yang lebih saya senangi, maupun menimbulkan penyakit yang amat sangat berbahaya di dunia, yaitu penyakit M (Malas). Di hari yang lain, bisa saja saya mendapatkan pelajaran yang sangat mudah bagi saya yang saya kira tidak perlu untuk saya pelajari secara formal di kelas. Hal ini mendorong saya untuk menjadi acuh tak acuh dalam pelajaran yang membuat saya tidak fokus serta melalaikan pelajaran.

Kedua tantangan diatas adalah hal yang paling sulit untuk saya hadapi selama saya belajar di institusi formal sampai sekarang. Dalam situasi seperti ini, berbagai godaan datang setelah saya melihat realita-realita maupun imajinasi-imajinasi yang ada di dunia, dari mulai masalah-masalah yang ingin saya ikut bantu, sampai karya-karya seni brilian yang membuat saya ingin mencoba untuk membuatnya. Hal ini saya definisikan sebagai hingar bingar dunia.

Mudah-mudahan tulisan singkat saya ini bisa memberikan motivasi serta pencerahan buat semua yang sedang bekerja keras dalam mengerjakan tugas maupun pendidikannya di sekolah/universitas, dan tergoda untuk segera masuk ke dalam hingar bingar dunia sebelum menuntaskannya. Jangan menyerah! Semua pasti ada waktunya.

Wednesday, July 7, 2010

Kebahagiaan Sempurna

Rasulullah SAW adalah seorang pedagang dan beliau sangat menganjurkan agar masyarakatnya dapat memenuhi kebutuhan pribadi serta finansialnya sendiri dan tidak bergantung oleh rasa kasihan orang lain. Belau tidak suka jika seseorang menggantukan hidupnya maupun harga dirinya hanya dari rasa kasihan orang lain, seperti peminta-minta di pinggir jalan. Beliau sangat menghargai seseorang yang bekerja serta berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Rasulullah SAW bersabda “Seseorang yang bekerja keras pagi sampai sore akibat mencari nafkah akan lebih disukai Allah SWT dari peminta-minta yang kadang diberi kadang tidak.” (HR Bukhari)

Surat An-Naba ayat 10-11 mengatakan “Dan kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan.” Jadi, Islam menganjurkan kita untuk bekerja dengan keras di siang hari serta beristirahat di malam hari. Dalam beraktifitas, kita harus dapat seimbang antara bekerja dan istirahat dan Allah SWT memberikan kita waktu siang dan malam untuk bekerja mencari rezeki yang halal serta barokah dan untuk beristirahat.

Mudah-mudahan dalam bekerja kali lini, kita dapat lebih baik lagi dari hari kemarin serta dapat bermanfaat bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Sesungguhnya bekerja itu akan menciptakan kebahagiaan dunia-akhirat, yang artinya akan mencapai sebuah kebahagiaan yang sempurna.

Daftar Pustaka:
Buku “Rahasia Sukses Bisnis Rasulullah” oleh Malahayati, S. Psi, Penerbit Great! Publisher