Wednesday, June 23, 2010

Laparlah untuk Menulis

Ya, suatu hari saya membaca buku di Perpustakaan Salman ITB tentang How To Be A Writer karangan seorang penulis Indonesia yang saya lupa namanya. Disana dituliskan cara-cara mutakhir untuk menjadi seorang penulis. Salah satu artikel yang disusunnya adalah tentang wawancaranya dengan penulis ternama Indonesia yaitu Putu Wijaya.

Sang penulis mewawancara beliau tentang bagaimana cara menjadi penulis yang produktif. Putu Wijaya mengatakan bahwa untuk menulis yang produktif diperlukan rasa lapar menulis. Jadi seperti makan, kita juga harus lapar dulu untuk menulis. Sebuah ide yang sangat brilian.

Saya pun ingat sewaktu saya bermain di kantor Ibu saya di Salemba UI, dimana sewaktu SMP saya senang bermain ke tempat administrator jaringan komputer disana. Saya pada saat itu sedang gila-gilanya bermain dan mengeksplor Linux, sekitar awal tahun 2000. Karena rasa penasaran saya, saya tentu bertanya kepada abang administrator yang ada disana tentang bagaimana cara menguasai Linux. Dia pun mengatakan, harus “Pegal Linux” dulu. Ok, tidak terlalu berkaitan dengan hal ini, saya pun kembali menulis disini.

Tadi saya baru saja menjalani sebuah training e-books di Perpustakaan ITB dan saya baru menyadari e-books di ITB sangat disupport dan ITB telah mengeluarkan dana sebesar kurang lebih $50.000 untuk berlangganan e-books maupun e-journal untuk melayani kebutuhan penelitian di ITB. Itu semua juga ternyata kurang tersosialisasi dengan baik dengan pengaplikasian yang sudah berjalan sekitar satu setengah tahun sebelumnya dengan pengguna yang relatif sedikit. Sekarang dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat civitas akademika ITB dapat memanfaatkan fasilitas e-book dan e-journal yang dapat diakses langsung melalui lib.itb.ac.id dengan baik.

Ok, saya juga ingin menulis yang lain lagi. Saya kemarin baru mengecek ke Togamas apakah ada buku baru yang saya cari. Sebetulnya saya sedang mencari Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika yang terbaru, namun ternyata belum ada. Saya juga tertarik untuk membeli dua buah buku lain yaitu Bumi Cinta karya Habiburahman El Syahrizy serta Aku Ini Binatang Jalang karya esensial Chairil Anwar yang merupakan pujangga ternama Indonesia angkatan 45. Namun saya memutuskan untuk tidak membelinya dulu karena saya mempunyai prioritas lain yaitu, membeli atlas dunia!

Ya, mengapa atlas dunia? Karena saya ingin mendekor ulang kamar saya dan saya melihat Alditsa “Dochi” Sadega memasang atlas dunia di kamarnya, yang menurut saya cukup menarik untuk saya ikuti. Yang saya tangkap adalah, ini menandakan bahwa dia menginginkan pergi keliling dunia. Saya pun menginginkannya, jadi saya juga tertarik membeli dan memasangnya di kamar.

Ok, selain itu, sudah sejak lama saya berada di perpustakaan SBM-ITB menyusun skripsi yang bertemakan Intrapreneurship ini. Saya memerlukan data skripsi yang diambil dari dua tempat yaitu Mizan Publishing House, dimana saya melakukan magang pada semester sebelumnya, serta Penerbit ITB. Alhamdulillah, kedua data yang dibutuhkan untuk menyusun skripsi sudah saya dapatkan, sekarang tinggal menyelesaikan proses data yang ada. Mudah-mudahan, saya bisa cukup efektif memanfaatkan waktu yang ada.

Saya kangen APRES. Saya sudah lama tidak kesana, tapi itu sudah selesai. Dan saya harus bisa menempuh hal baru. Mudah-mudahan silaturahmi bisa tetap terjaga. Ok, time to go now. Alhamdulillah bisa mengisi thdy lagi. Semoga bermanfaat. :)

No comments:

Post a Comment